#30, Cerita Dari Jaen: RAHASIA SURVIVE 1 TAHUN LESS THAN 1 EURO

By Mirtha N. A Jannah

¡Hola! Aku Mirtha Nur Auliya Jannah, mahasiswi pecinta seni yang tak suka basa-basi. Sebagai seorang mahasiswa, adalah sangat wajar untuk membiasakan diri hidup hemat, prihatin dan serba irit dimanapun berada. Kali ini aku mau bocorin rahasia survive 1 tahun hanya dengan kurang dari 1€ (1€=Rp17.000,00) berdasarkan pengalaman yang aku alami di Jaén. Kalau dipikir-pikir Rp 17.000,00 itu paket hemat buat sekali makan (nasi uduk pakai ayam penyet yang masih anget kebul-kebul, sambel terasi, tempe tahu goreng, lalapan plus es teh huahuahua). Plisss buat mahasiswa perantauan yang rindu makanan indo dilarang keras berkata kasar! Hehehe.

Singkat cerita, aku suka berinteraksi sama orang, terutama penduduk lokal karena dengan berinteraksi dengan mereka, aku bisa belajar bahasa Spanyol lebih cepet dan dapetin banyak informasi tentang apapun dari mereka. Saat itu, aku mampir ke tempat tetangga, dan setiap kali aku pulang dari rumah mereka, aku pasti selalu bawa harta karun, entah itu pakaian, sembako maupun toiletry. Karena penasaran darimana mereka bisa dapet barang kebutuhan sebanyak itu, akhirnya aku pun tanya ke mereka. Mereka memberitahu kalau mereka dapet semua kebutuhan itu dari lembaga penyalur bantuan seperti gereja, Cruz Roja Española dan Cáritas. Di lain kesempatan, diajaklah aku sama tetangga untuk ambil bantuan sekalian mendaftar jadi penerima bantuan juga.

Perlu diketahui bahwa di Jaén, yang berhak menerima bantuan ini adalah orang-orang yang bekerja dengan gaji kurang dari 1000€ per bulannya, orang yang tidak/belum mempunyai pekerjaan, mahasiswa, pensiunan, dan penyandang disabilitas. Alasanku untuk apply program ini adalah aku seorang mahasiswa yang masuk kategori penerima bantuan. Jumlah beasiswa 2200€ yang aku dapetin dari kampus per tahunnya tidak cukup untuk bertahan hidup. Jumlah itu sangat amat sedikit. Jika dihitung perbulannya, kami para penerima beasiswa hanya menerima 183,33€ saja. Jumlah tersebut hanya cukup untuk membayar sewa rumah dan membayar gastos (listrik, air, internet, dan gas).  Lagipula, ketentuan ini bersifat legal. Salut untuk lembaga pemerintah maupun NGO Spanyol dalam memberikan fasilitas seperti ini untuk menyejahterakan warganya, baik warga asli Spanyol maupun nonSpanyol.

Lanjut ya, saat itu, aku hanya diminta untuk mengumpulkan fotokopi berkas-berkas berikut ini:

No Nama berkas Tempat/Website Keterangan
1 NIE/DNI (KTP) Extranjeria/ Subdelegación del Gobierno (kantor urusan LN)/ www.seat.mpr.gob.es Berbayar (Mahasiswa wajib punya, diurus setelah kedatangan ke Spanyol)
2 Certificado de empadronamiento (Kartu Keluarga) Ayuntamiento (balai kota)/ www.060.es Gratis
3   El informe de la vida laboral (Surat Keterangan Kerja) Tesorería General de la Seguridad Social (Kantor Jaminan Sosial)/ http://www.seg-social.es Gratis
4 Contrato de piso (Surat Kontrak Rumah) Rumah, pemilik rumah Gratis
5 LOA/Surat keterangan dari kampus yang menyatakan kita mahasiswa resmi kampus tersebut Kampus Gratis

*Persyaratan diatas adalah untuk mahasiswa

*Persyaratan dan prosedur di tiap daerah bisa jadi berbeda dan menggunakan sistem wawancara, kebetulan di Jaén tanpa wawancara

Memangnya bisa, kurang dari 1€ buat survive setahun? BISA DONG! Yuk lihat perhitungannya!


*Aku apply bantuan sembako di tiga tempat berbeda, jadi aku fotokopi rangkap 3, bisa jadi tiap lembaga beda persyaratan berkas

Seperti yang temen-temen lihat dari perhitungan diatas, total yang aku keluarin hanya sebesar 0,42€ atau sekitar Rp 7.140,00. Itu jumlah yang kurang dari 1€, (murah ga sih?). Aku beracuan less than 1€ itu sebenernya untuk modal fotokopi aja hehehe. Lalu, aku submit berkas-berkas tadi ke lembaga yang dituju daaaan they accepted my documents and Voila! I have already registered!

Dengan cara ini, aku bisa hemat banyak pengeluaran. Kebutuhan yang aku dapetin dari satu tempat diantaranya beras (1 kg), minyak goreng oliva/girasol (1 botol), tuna kalengan (3 pcs), susu cair (6 box), susu bubuk cokelat (2 pcs), melocoton kalengan (2 kaleng), judia verde kalengan (2 kaleng), alubia blanca kalengan (2 kaleng), saus tomat (2 kaleng), makaroni (2 pcs), biskuit maria (2 pcs), dan pakaian, tas, sepatu, pilih dan ambil sepuasnya (baru dan preloved). Itu baru di satu tempat aja ya, bayangin berapa banyak yang aku dapat dari tiga tempat berbeda. Coba temen-temen kalkulasi harga sembako kayak yang diatas dengan harga di supermercado pada umumnya dikalikan tiga (karena aku apply di tiga tempat berbeda) dan dikali 12 (karena dihitung setahun). Mohon bersabar, dilarang keras berkata kasar! Hehehe.

Di lain tempat, dikasihnya beda-beda. Ada yang kasih sayur-sayuran, buah-buahan, daging ayam, daging kalkun, udang, sabun mandi cair, pasta gigi, mainan anak, perkakas rumah tangga bahkan sampai popok bayi. Kualitas barangnya pun oke dan seger-seger. Bantuan ini diberikan tiap sebulan sekali dan berjalan tahunan. Jadi tiap tahun harus daftar lagi untuk dapat bantuan. Di tempat lain ada juga fasilitas lain yang ditawarkan seperti dapat kopi pagi gratis, makan siang plus snack sore gratis, potong rambut gratis, laundry gratis, fasilitas kamar mandi gratis, dsb. (Disclaimer: dalam tulisan ini dimaksudkan hanya untuk memenuhi kebutuhan primer).

Intinya, rahasia bisa survive setahun kurang dari 1€ itu sederhana banget kok temen-temen. Pertama, jalin hubungan baik dan terus interaksi dengan banyak orang. Kedua, gali informasi sebanyak-banyaknya tentang hal-hal yang berbau gratisan, diskonan, pasar murah, lembaga penyalur bantuan dan sebangsanya. Ketiga, temen-temen harus mampu mengatasi mental block (ketidakmampuan untuk berpikir atau melakukan sesuatu yang secara normal sebenarnya bisa dilakukan yang seringkali disebabkan oleh tingginya luapan emosi) dan buang jauh-jauh istilah gengsi. Jangan sampai tindakan dan ketenangan kita secara tidak sadar disetir oleh perasaan khawatir terhadap pendapat orang lainKalau mau dapet rezeki ya harus diusahakan dan harus dijemput, bukan berharap nunggu jatuh dari langit hehe.

Dalam tulisan ini, aku menyadari bahwa untuk survive lebih baik kita kerja full selagi masih mampu dan sehat. Aku pun disini juga kerja sambilan ngajar bahasa Inggris dan bantu bisnis milik tetangga. Sayangnya, karena terbentur aturan bahwa mahasiswa hanya boleh kerja paruh waktu (tidak boleh lebih dari 20 jam per minggu), maka kerja full seharian tidak memungkinkan. Alhasil, penghasilannya ga seberapa. Aku yakin bahwa untuk bertahan hidup, kerja keras saja ga cukup, tapi juga musti diimbangi kerja cerdas. Kerja cerdas yang aku maksud disini adalah pandai melihat peluang dan mengusahakan agar apa yang kita usahakan bisa membantu mempermudah kehidupan kita di perantauan. Selain itu, aku pun percaya bahwa sistem pendataan yang baik dari program bantuan ini dapat menghindari timbulnya efek domino yaitu kondisi dimana makin membludaknya pendaftar karena tahu adanya kesempatan ini. Tentu ada alasan kenapa Cruz Roja Española dan Cáritas bertahun-tahun masih membuka kesempatan ini untuk kami mahasiswa, kan?

Aku ingin berpesan pada teman-teman semuanya bahwa hidup di luar negeri itu tidak selamanya indah mulus adanya, harus ada perjuangan dan usaha untuk survive.  Setiap orang punya cara masing-masing untuk bertahan hidup di perantauan. Menekankan sekali lagi bahwa mengelola finansial itu penting dan bersyukur membuat hidup terasa bahagia karena bahagia itu sederhana, begitu juga hidup, yang sebenarnya sangat sederhana dan tidak sebaiknya dibuat susah. Jika kita “butuh” dan ada kesempatan baik, legal dan tidak merugikan orang lain, cukup satu kata, gerak!.

Tulisan ini ditulis berdasarkan pengalaman pribadi yang bertujuan memberikan “solusi” bagi temen-temen yang “butuh” dalam hidup di perantauan. Tiada maksud menyinggung pihak manapun ya temen-temen.  Nah, karena sudah bocor kan ya rahasia survive under 1€ nya, perlu ditutup nih biar ga bocor lagi (alay) hehe. Cerita ini aku tutup dengan quote berikut ini:

“Sekecil apapun uangnya, akan cukup digunakan untuk hidup, tapi, sebanyak apapun uangnya tak akan pernah cukup untuk memenuhi gaya hidup.”

“Jadilah orang yang dermawan tapi jangan menjadi pemboros. Jadilah orang yang hidup sederhana, tetapi jangan menjadi orang yang kikir.” – Ali bin Abi Thalib.

Untuk temen-temen yang merasa terbantu dengan cara surviveku, silahkan dipraktikkan semoga terbantu kehidupannya di perantauan. Good luck semuanya! Semoga bermanfaat ya! Much love and God bless! 🙂