Kumpulan Surat Untuk Ibu – Part 1

Kumpulan #SuratUntukIbu ini didedikasikan kepada para Ibu yang telah berjasa membesarkan kita. Terima kasih atas kasih sayangmu yang tanpa batas, Ibu 🙂

Nantikan Kumpulan Surat Untuk Ibu – Part 2

 

Surat Untuk Ibu #1

***

Waktu memaksaku melangkah jauh

Bertambah umur justru mebuatku angkuh

Aku dibutakan dunia yang begitu rapuh

Mengaku cinta namun nyatanya acuh tak acuh

 

Terlalu sibuk dengan alam fana nan candu

Aku terlena berbagai tipu daya dibalut kesenangan palsu

Namun tak kunjung puas juga hasratku

Sampai kusadari semua hanyalah kebahagiaan semu

 

Tatkala datang padaku gelapnya malam

Namun kedua mata ini tak kunjung dapat kupejam

Benaku menerawang melintasi langit yang hitam

Bayang wujudmu hadir diantara dingin yang semakin mencekam

 

Aku tak pernah ingat kali pertama kita berjumpa

Bagaimana wajahmu manakala kita bertatap muka

Entah berapa banyak kau tumpahkan darah dan air mata

Demi diriku kau rela merenggang nyawa

 

Terasa begitu sesak dalam dadaku

Ku hela nafas dalam-dalam maka pecahlah tangisku

Terlintas bagaimana masa lampau yang berlalu

Bagaimana kau menyuapiku dengan cinta kasih sayangmu

 

Ibu…

Berteriak batinku memanggil dirimu

Ketika dekat aku menyakitimu disaat Jauh aku melupakanmu

Aku tak ingin terlambat hingga ajal datang memisahkanku darimu

Maafkanlah diriku wahai ibuku

 

Aku benar begitu merindukanmu

Aku rindu dalam hangat kasih sayangmu

***

 

Surat Untuk Ibu #2

Judul: Aku Masih Rindu Panggilan Itu

***

Aku masih rindu panggilan itu…

Serasa baru kemarin malam aku mendengarnya…

Dengan seisak haru di telingaku…

Detak dan hembusan itu menyapu pipiku…

Bahagiamu menerima hadirku di dunia…

 

Aku masih rindu panggilan itu…

Seperti pagi buta itu amat dekat…

Dan kenangan itu membuat desir bertabur…

Ketika engkau genggam manja tanganku…

Yang menghalangi suapan kasih ke mulutku…

 

Aku masih rindu panggilan itu…

Mungkinkah aku masih dalam pelukanmu…

Ketika hangatnya mendekapku erat-erat…

Mengamatiku yang mulai berlarian di dinding pendidikan…

Belajar bersama pikuknya kesibukan semesta alam…

 

Aku masih rindu panggilan itu…

Sungguh aku telah berjalan sangat jauh…

Namun tak pula kutemukan senyum jenuh…

Ketika masih kusuratimu banyak keluh…

Yang di seusiamu ketabahanmu tak pernah luluh…

 

Aku masih rindu panggilan itu…

Musim dingin yang keempat disini kembali tiba…

Ranting dan dahan di hatiku bergetaran…

Berbisik untuk terus semangat dalam karya…

Dalam batasanku kutitipkan padanya doa-doa…

Duhai Allahku bahagiakanlah Ibuku…

Duhai Tuhanku muliakanlah Mamahku…

Duhai Penciptaku ridhailah Emakku…

Duhai Kekasihku sayangilah Bundaku

Ibu.. Mamah… Emak… Bunda…

Emak… Ibu… Bunda… Mamah…

Bunda… Emak… Mamah… Ibu…

Mamah… Ibu… Bunda… Emak…

O, apapun panggilan kemesraanku padanya…

Engkau yang menguasai segalanya lebih mengetahuinya…

O, apapun panggilan keakrabanku dengannya…

Engkau yang menggenggamku lebih mengenalnya…

O, sebatas dan tak terbatasnya di sisimu ku yakin lebih istimewa lagi panggilan itu untuknya…

O, dan aku benar-benar masih ingat rindunya panggilan itu…

***

(Musim Dingin Ke-Empat)

 

Surat Untuk Ibu #3

***

Wahai ibu sang bidadari surga.

Izinkan aku merangkai kata pada secarik surat (lagi) untukmu.

Ibu..

Sudah berapa banyak jalan terjal yang kau lalui dalam hidupmu?

Dalam memperjuangkan aku anakmu.

Dan juga menjalani tugasmu sebagai seorang ibu.

Di usiaku yang kini mulai dewasa

dan usiamu yang tak lagi muda,

engkau ajarkan tentang banyak hal kepadaku,

mulai dari berjalan dan mengerti akan sesuatu.

Aku pun mulai mengerti, bu..

Lingkaran hitam di matamu telah menyimpan lelah yang tak bisa ku deskripsikan seperti apa ia, namun tak pernah engkau ungkapkan padaku. Hingga engkau membiarkan aku hanya tahu tentang senyum semangatmu tanpa tahu beban lelahmu.

Di setiap peluh yang mengalir di pelipismu telah menceritakan seberapa besar perjuangan yang telah kau korbankan. Hingga aku hanya tahu selalu ada bahagia yang kau bawa tanpa tahu seperti apa perjalananmu membawa kebahagiaan itu untukku.

Pada keriput yang mulai menghiasi kulitmu telah menegaskan seberapa tangguhnya profesi seorang ibu yang tak pernah habis di makan umur.

Sebab ibu adalah pelindung sepanjang masa, penyayang yang tak pernah habis, dan kasih yang tak pernah mati.

Tapi, bu…

Atas segala peluh, air mata, perjuangan serta kasih dan sayangmu untukku selama ini,

apa yang telah aku lakukan padamu?

Dengan santainya aku menolak permintaan kecilmu.

Dengan bangganya aku melanggar janjiku atas laranganmu.

Dan tanpa sadar, bahwa selama ini yang telah ku beri hanyalah duka dan air mata.

Bukan perjuangan serta kebahagiaan seperti yang engkau berikan padaku.

Padahal aku tahu..

“Celakalah bagiku” itu ancamannya apabila aku melakukan hal itu.

Bu,

Aku berdosa padamu.

Bukan namamu yang selalu kuselipkan dalam doaku.

Padahal di setiap doa bahkan nafasmu selalu menye.but namaku.

Bukan dirimu yang ku utamakan kebahagiaannya dan bukan kepatuhanku yang ku berikan untukmu.

Padahal engkau selalu mengutamakan kebahagiaanku bahkan dalam air matamu mengatakan “anakku harus bahagia”.

Bu, di sisa waktu yang kita miliki saat ini.

Izinkan aku berucap maaf untuk menyesali ribuan tusukan belati yang telah ku torehkan pada hatimu.

Meski aku tahu apa yang ku katakan tak bisa sepenuhnya menghapus luka itu.

Dan izinkan aku mengubah pribadiku menjadi sosok mulia seperti dirimu.

Engkaulah sosok mulia di balik duka profesimu.

Semoga Allah selalu memberikan kebahagiaan untukmu meski itu bukan karena ku.

Dan semoga singgasana di sisi-Nya menjadi tempat yang pantas bagimu kelak.

***