PPI Spanyol Bercerita #19

jenny

#PPISpanyolBercerita edisi ke sembilan belas ini akan menceritakan pengalaman Kak Jenny yang sedang menempuh studi S2 di kota Barcelona. Kak Jenny adalah penerima beasiswa LPDP dan berkuliah di Universitat de Autonóma Barcelona melalui program Erasmus+ Logistics and Supply Chain Management (LSCM).

Testimoni:

“Kenapa kuliah ke Spanyol, mau nonton bola pasti kamu ya?” Pertanyaan seperti itu kerap saya terima ketika memutuskan kuliah di Barcelona, bahkan interviewer beasiswa pun bertanya demikian. Walaupun awalnya Spanyol tidak pernah ada dalam daftar negara incaran saya untuk studi, tapi siapa sangka justru impian masa kecil saya yang menjadi kenyataan. Masih teringat jelas 18 tahun lalu saat menyaksikan megahnya World Cup 1998 di televisi 14 inch, saat itu saya terpukau dengan megahnya stadion yang seketika membuat saya jatuh cinta pada sepak bola. Bahkan doa saya di ultah tahun kemarin adalah “Tuhan, kalau memang kuliah di Eropa adalah rejeki saya yang masih Engkau simpan, semoga tahun depan saya bisa berada Camp Nou”. Alhasil 4 bulan tinggal di Spanyol dan saya bisa menyaksikan gol pinalti Messi di Mestalla, merasakan megahnya Santiago Bernabeu, mengunjungi Vicente Calderón sebelum Atletico de Madrid pindah ke kandang barunya tahun depan, dan tentu saja, merayakan ultah tahun ini di Camp Nou!

Program Master in LSCM yang saya tempuh saat ini berbeda dengan program serupa yang umumnya lebih merujuk ke aspek management. Karena programnnya adalah Master in Engineering, materi yang diajarkan lebih ke technical dan pendalaman di bidang IT. Salah satu materi favorit saya adalah ketika belajar tentang air traffic management di mana kita belajar membuat flight schedule simulation dan saya akhirnya tahu kalau satu area di langit harus ‘clear’ selama 15 menit sebelum dilintasi oleh pesawat berikutnya. Jadi ngerti kan alasannya kenapa delay dalam penerbangan sering terjadi (:

Pesan:

Kuncinya belajar di luar negeri adalah pintar manajemen waktu dan uang. Kuliah di sini lebih besar tantangannya, mulai dari bahasa hingga materi, kalau tidak diselingi refreshing bisa stress sendiri. Saya pribadi rela selama hari kerja menghabiskan waktu di lab dan perpustakaan buat merampungkan semua assignment, jadi saya punya waktu bebas buat refreshing pas weekend. Pokoknya akhir pekan buat me-recharge semangat dengan hal-hal menyenangkan, entah untuk sightseeing, ke bioskop, atau ngumpul sesama teman PPI. Tinggal di luar negeri juga harus pintar me-manage uang. Saya mengupayakan selalu masak dan bawa bekal dari rumah ke kampus, makan di luar terkadang pas weekend saja. Hasilnya? Punya tabungan buat Eurotrip dan skill masak pun makin terasah. Prinsipnya bukan cuma work hard play hard, tapi juga save more, travel often!

Oh ya satu lagi, karena perkataan adalah doa, selalulah berkata yang baik-baik. Dulu saya cuma anak miskin yang berangan-angan bisa sekolah tinggi dan keliling dunia. Beberapa teman sekolah saya dulu suka menertawakan jika saya mulai menyebutkan tempat-tempat indah yang ingin saya kunjungi. Alhamdulillah ternyata mimpi saya sejalan dengan usaha saya untuk meraihnya. Jika kamu punya mimpi untuk sekolah di luar negeri, segeralah mulai berjuang dan selingi dengan doa untuk mewujudkannya. Batas impian adalah langit. Universe supports you, God rewards you 🙂

 

Jika ingin bertanya lebih jauh tentang programnya silakan merujuk pada:

Twitter: @jennyrockmantic

Facebook: Jeanne Svensky Ligte

Instagram: @mypassporttoparadise