Hey Kamu, I will Miss You

Kalo mau ditanya kuliah di Eropa, pasti jawabannya pada mau kuliah di Paris atau London, atau bahkan kota-kota di Jerman. Oh ya, buat orang Indonesia mungkin bakal pengen kuliah di Belanda. Rahasia umum kalau negara-negara itu merupakan tempat favorit pelajar Indonesia untuk melanjutkan studinya mereka. Kalau Spanyol masuk hitungan buat melanjutkan study nggk ya? Kalau masuk hitungan buat nonton bola, itu pasti! Klub-klub seperti Real Madrid, Barcelona, Atletico Madrid, Sevilla, ataupun Valencia itu nggk asing di telinga masyarakat Indonesia.

Waktu masih umur sekitar 13 tahun, pernah terpikirkan untuk ke Eropa, tapi negara yang di tuju itu bukan Spanyol tapi Perancis, soalnya suka team nasional Perancis gara-gara ngefans sama David Trezequet. Nggk pernah kebayang soal Spanyol, pasti nanya, emang ada apa disana? Kalau Itali ada Koloseum di Roma atau di Perancis ada Menara Eiffel di Paris, pokoknya ada landmarknya, di Spanyol ada landmark apa ya? Pasti banyak yang bingung kalo di tanya soal yang itu

Nggk di sangka sebelumnya, negara yang pertama saya tuju, dan kalian bisa tebak, karena sudah saya mention beberapa kali. Saya menuju Spanyol, negara di semenanjung Iberia, negara yang dulu lama di jajah oleh bangsa Arab. Tiga malam berturut-turut saya nggk bisa tidur, membayangkan apa saya sedang mimpi? Saya akan berangkat menuju Spanyol dan menghabiskan satu semester disana, berkuliah disana, merasakan yang namanya hidup di tanah Eropa, merasakan yang kata orang tentang winter, walaupun saya tahu jika di Spanyol nggk ada salju, ada sih walaupun hanya di beberapa tempat di Spanyol utara yang konturnya bergunung. Hidup di Spanyol mungkin bakal menyenangkan, tetapi sebelum saya pergi, di kepala saya selalu terngiang akan apakah saya bisa bertahan disana? Apakah mereka bakal menerima saya? Karena sempat terpikirkan oleh ulah ISIS, dan kebetulan juga saya seorang muslim, saya merasa khawatir, karena ini sangat berbeda dengan Indonesia. Tapi yasudahlah mari kita jalani.

thumb_IMG_8523_1024

Saya jatuh cinta dengan Spanyol begitu memulai hidup disini, kehangatan Spanyol yang terkenal, dan juga orang-orang yang sangat ramah. Saya jatuh cinta sama Spanyol, yah walaupun di awal perjalanan dari Barcelona ke kota yang saya tuju, saya dan teman-teman sempat 3 kali salah naik kereta, perjalanan yang seharusnya 3 jam jadi 7 jam. Kami bertujuh datang dari Indonesia, melalui program kampus, kebetulan kampus kami Universitas Muhammadiyah Yogyakarta mempunyai program kerja sama dengan Universitat Jaume I di Castellon.

Singkatnya kami memulai hidup kami di Castellon, kota kecil yang menjadi rumah kami di tanah Eropa, kota kecil yang belakangan menjadi kampung halaman kami di Eropa. Kota ini nyaman, nggk banyak kendaraan seperti di Jogja, nggk banyak orang juga seperti di Jogja, bukan kota pariwisata juga seperti di Jogja. Kota ini berbanding terbalik dengan Jogja, di kota ini kami kemana-mana berjalan kaki, atau terkadang naik sepeda, terkadang juga naik tram, tetapi sebagian besar kami habiskan dengan berjalan kaki. Berbeda dengan Paris yang bakal habis waktu di dalam Metro (MRT), di Castellon malah kita punya banyak waktu luang untuk berjalan kaki, saking kecilnya ahaha. Waktu teman-teman dari PPI Valencia datang bersilaturahmi mereka sering nanya “eh ini mana orangnya?” kalau dibandingin dengan Valencia yang kota terbesar nomor 3 di Spanyol, ya beda jauh tentunya. Disini warganya hanya sekitar 100.000 jiwa, di banding dengan Valencia yang lebih dari 1 juta jiwa, tentu saja jauh bedanya. Tapi ternyata Castellon nyaman, serasa seperti rumah sendiri.

 

Di kampus pun kami di terima dengan baik oleh teman-teman Erasmus. Kami lebih banyak keluar main dengan anak Erasmus karena saat kita pertama kali datang, kita yang international student di brief dan di sambut, barengan dengan anak Erasmus, jadi dari situ kita banyak berkenalan dan sebagainya, sampai akhirnya kita punya grup masing-masing, saperti saat awal kuliah dulu di Indonesia.

Di Spanyol ini akhirnya saya merasakan banyak pengalaman baru, mulai dari pengalaman seperti nonton Moto GP di Valencia, melihat Valentino Rossi start dari posisi akhir saat race, lihat Rossi jatuh saat qualification, berpanas-panasan di sirkuit, sesuatu yang saya belum pernah merasakan sebelumnya, saya rasakan disini, di Spanyol. Atau mungkin cerita tentang saya pergi menonton Champions League antara Valencia melawan Lyon, ketawa sendiri saat mendengar anthem Champions League di putar, saya tersenyum dan berkata bitch! I heard this song live, not on TV, ahahah. Di Spanyol ini juga pertama kali saya merasakan menginap di wisma KBRI di Madrid, walaupun tiba di Madrid pukul 3 pagi, tetapi tetap saja dengan senyum mereka membukakan gerbang, walaupun sudah saya telpon berkali-kali ahahah. Saya punya banyak keseruan dan kenangan selama di Spanyol, sesuatu yang akan melekat di memori saya dan takkan pernah terlepas begitu saja.

thumb_IMG_8301_1024a

Di Spanyol pula saya belajar bagaimana lebih mencintai Indonesia, bagaimana hal-hal kecil tentang Indonesia ternyata membuat saya rindu. Sebut saja seperti bantal guling, yang ternyata orang Spanyol nggk gunakan, saya kangen tidur make bantal guling, atau rasa rindu akan makanan pedas, orang Spanyol ternyata makan mie instant yang di kasih bumbu cabe instant yang ada di kemasan, mereka sudah langsung teriak kepedesan, beda sama orang Indonesia, apalagi saya yang berasal dari Indonesia Timur yang terbiasa makan pedas, saya sangat merindukan itu. Di Spanyol juga saya merasa girang ketika bertemu dengan indomie, ataupun tempe, ataupun sambal botol ABC. Semua hal simple yang ternyata bisa membuatmu tersenyum dan mengingat Indonesia. Hari pertama di Castellon, saya langsung kangen motor saya, bagaimana tidak, disini saya harus berjalan kaki, di Indonesia mau beli pulsa depan komplek aja naik motor, disini harus berjalan kaki. Tetapi ternyata lama-lama biasa loh, dan menyenangkan, lama-lama juga terasa dekat. Ternyata saya menemukan bakat saya selama di Spanyol, saya ternyata berbakat dalam membuat telur goreng, karna mungkin itu makanan yang paling sering saya makan, di kasih kecap, nikmat sudah dunia saya. Selama di Spanyol saya belajar memasak, karena memang ternyata tinggal di luar negeri itu nggk bisa manja, kalau di Jogja mungkin nggk begitu repot seperti di luar negeri, karena pengen (makanan) apa aja bisa di beli, nah di Spanyol? Belajar dulu di youtube baru bisa makan. Lama-lama akhirnya gerah juga nggk makan sayur, hingga akhirnya saya jago masak cap cay, kata anak-anak se-flat katanya enak, tapi entah karena itu mau nyenangin hati saya ato gimana ahaha.

thumb_SJCM0226_1024 2

Jujur saja saya berat meninggalkan Spanyol, rasanya sudah seperti rumah sendiri, sudah mulai paham dengan bahasanya, budayanya, cuacanya, bahkan yang paling utama orang-orang di dalamnya. Spanyol itu hangat, dia akan selalu dengan senyum menyambut kalian, sama seperti diriku yang di sambut Indonesia, sangat hangat. Jujur malam itu ketika mau meninggalkan Spanyol ada rasa sedih karena merasa seperti meninggalkan rumah, tapi kali ini nggk tau kapan lagi akan balik ke rumah, tapi malam itu tertutup dengan keluar nongkrong dengan Evan Dimas, waktu itu dia lagi ada di Barcelona untuk kontrak latihan dengan Espanyol.

thumb_IMG_5946_1024 2

Saya ingat ketika pertama kali euro trip sendirian, saat itu sedang libur Natal, waktu itu kota pertama yang saya kunjungi ialah Paris, seperti banyak orang yang ke Eropa, Paris pasti masuk list utama. Ternyata berlama-lama di Paris tidak terlalu menyenangkan, karena ini kota besar, dan semuanya serba jauh, selain itu apapun lebih mahal jika di badingkan dengan di Spanyol, beberapa hari aja di Paris abis banyak, disitu saya langsung kangen Castellon ahaha. Atau juga ketika saya di Budapest, suhu disana saat itu -15, beda jauh dengan Spanyol yang 0 aja jarang, kecuali di dataran tinggi, dan ternyata salju itu nggk begitu enak, ternyata kondisi bersalju itu bikin anggota tubuh sakit teutama telinga dan jari-jari yang terkadang sering mati rasa gara-gara terlalu dingin. Hal itu mungkin nggk akan pernah saya alami selama di Spanyol, saya langsung kangen dengan kehangatan Spanyol waktu itu, atau ketika saya akan mengakhiri Euro Trip, saya mengunjungi Brussels, dan ternyata disana yang beragama muslim banyak, dan makanan halal tersedia di mana-mana, sangat berbeda dengan Spanyol yang penduduk muslimnya sangat sedikit, bukan berarti saya nggk suka makanan halal di mana-mana. Tapi di Spanyol saya jadi ngerasain perjuangan untuk makan, dan mungkin saya nggk bakal merasakan hal itu jika saya tinggal di Brussels. Selama perjalanan 3 minggu itu, berbagai negara saya kunjungi, tetapi tetap saja saya nggk sabaran untuk kembali ke Spanyol, ya mau gimana lagi, rasanya udah kayak rumah sendiri. Saya tersenyum sendiri ketika sesaat setelah mendarat di Valencia, saya tersenyum mendengarkan orang berbahasa Spanyol, karena akhirnya saya ngerti apa yang di bicarakan, berbeda dengan berbagai negara yang saya kunjungi, karena memang saya nggk ngerti bahasanya. Mendengar kata “proxima parada” di dalam metro aja udah bisa buat saya senyum. Ya seperti serasa pulang ke rumah.

thumb_IMG_1243_1024

Bisa di bilang saya mendapatkan tempat bernaung di Spanyol, saya di beri tempat bernaung oleh PPI Spanyol. Saya di terima dengan baik oleh PPI Spanyol, hangatnya tempat ini, hangat banget. Saya di ajarkan jika memang rasa cinta kita akan Indonesia bisa dan tentu saja akan lebih tumbuh dengan begitu kuat jika kita melihat Indonesia dari “luar”. Rasa cinta saya akan Indonesia menjadi begitu kuat. Hanya tuhan yang akan tahu kapan saya akan kembali ke negara ini, negara ini banyak mengajarkan saya hal yang tidak pernah saya pelajari di Indonesia.

12189890_10205497701269117_56494022669966258_n

Como estás España? Claro que echo de menos contigo. Deseo que en un dia puedo volver a España. Te quiero España. Eres siempre en mi corazon.

 

 

 

A España con amor de Indonesia

Fauzan Ammari

2 thoughts on “Hey Kamu, I will Miss You

  1. Hay rumahnya yang sering saya hampiri🙂
    sampai ketemu lagi di lain waktu :))
    Echo de menos con su familia🙂

Comments are closed.