Ramadhanku di Spanyol feat Radio FM Sham Surabaya

Ramadhan adalah bulan suci yang selalu memberi nuansa tersendiri buatku sebagai orang Indonesia yang muslim. Nuansa dimana pengajian diadakan di berbagai tempat dan berbagai waktu, baik yang pengajian takjil atau menjelang buka puasa, kuliah tujuh menit sebelum tarawih, dan tidak kalah pengajian yang mengisi stasiun radio dan TV baik lokal maupun nasional. Semuanya menciptakan satu nuansa ceria Ramadhan ala Indonesia.

Serba-serbi Ramadhan juga meliputi pasar tumpah disore hari yang terjadi dimana-mana di tanah air. Aneka makanan pembuka puasa dan makanan berat dijual di berbagai pasar tumpah tersebut, baik oleh orang yang biasa berdagang dihari-hari sebelumnya maupun orang yang tidak pernah berjualan dihari-hari selain bulan Ramadhan. Artinya Ramadhan mempengaruhi ke banyak sektor kehidupan di Indonesia yang notabene-nya sebagai negara dengan masyarakat Muslim terbanyak sedunia.

Semuanya menjadi satu khas tersendiri ala Indonesia ketika Ramadhan datang menyapa masyarakat Indonesia. Aku tentu sangat menikmati nuansa itu, nuansa yang jelas-jelas membuat puasaku menjadi mudah untuk dijalani dan menunjang untuk menjalankan ibadah lainnya dengan mudah dan nyaman. Namun demikian, keberadaanku di Spanyol saat ini untuk studi lanjutku di jenjang S2, menjadikan aku jauh dari nuansa Ramadhan khas Indonesia ketika Ramadhan datang di tahun ini. Tidak ada lagi kolak pisang, tidak ada lagi pasar tumpah Ramadhan, tidak ada lagi acara TV spesial Ramadhan dan tidak ada lagi tarawih yang juga khas Muslim Indonesia pada umumnya.

Berbeda dengan Indonesia, Spanyol seperti kebanyakan negara-negara lainnya di Eropa, tentu tidak ada yang berbeda ketika datangnya bulan Ramadhan. Semua aktifitas berjalan seperti biasanya. Bahkan restoran Muslim sekalipun tetap saja buka di siang hari. Alasannya sederhana, karena tidak semua pelanggan restoran tersebut adalah orang muslim, bahkan lebih banyak pelanggan non Muslim yang datang dan menikmati masakan-masakan khas timur tengahan restoran itu. Jadi, sangat masuk akal jika mereka tetap membuka restorannya di siang hari di bulan Ramadhan.

Namun perlu diingat bahwa Islam dulu pernah berjaya di negeri ini. Islam berhasil memakmurkan semua rakyat Spanyol tanpa membeda-bedakan agama yang dipeluknya. Nilai-nilai demokrasi khususnya tentang kebebasan beragama sudah pernah dibuktikan oleh khilafah bani Umayyah yang memimpin Spanyol selama kurang lebih 800 tahun dimana tiga agama hidup rukun dan berdampingan dengan harmonis, yaitu: Islam, Yahudi, dan Kristen. Maka dari itu, publik juga sudah sangat mengerti dengan yang namanya Ramadhan. Hal ini juga dibuktikan dengan adanya pemberitaan di televisi nasional tentang datangnya Ramadhan dan bagaimana umat muslim menjalaninya. Namun demikian, tetap saja masyarakat non muslim Spanyol melakukan aktifitasnya seperti biasa.

Saya sendiri, sebagai orang Indonesia yang muslim, sangat merindukan nuansa ramadhan khas Indonesia yang selalu mengiringi perjalanan ibadah puasa saya selama bertahun-tahun. Sehingga kemudian, saya merasa harus menciptakan nuansa tersebut disini, di Spanyol. Ada beberapa hal yang berhasil saya lakukan untuk menghadirkan nuansa tersebut, paling tidak tiga hal yang yang saya lakukan: Pertama, Memutar lagu-lagu ramadhan mulai dari penyanyi jadul seperti Bimbo, Nasida Ria, Rida-Sita-Dewi dan sampai penyanyi atau grup band masa kini seperti Ungu, Baginda, dan Opick. Semuanya berhasil membawaku pada satu nuansa ceria Ramadhan khas Indonesia.

Kedua, masih karena kemajuan teknologi, akupun membaca status teman-temanku di facebook yang menulis tentang ekspresi mereka menyambut ramadhan. Seakan-akan akupun dapat merasakan status-status sederhana itu seperti akupun juga merasakannya, khususnya merasakan apa yang mereka rasakan yang merupakan refleksi dari reaksi mereka terhadap lingkungannya dimana nuansa itu benar-benar kuat keberadaanya.

Dan yang ketiga, akupun harus berterima kasih kepada orang-orang yang berdomisili di Indonesia yang meng-upload serial spesial Ramadhan “Para Pencari Tuhan Jilid 7” yang merupakan acara favorit-ku dulu ketika di Indonesia. Acara yang biasa aku tonton sembari menyantap makan sahur. Entah apa motivasinya, tetapi selalu saja ada orang yang menguploadnya. Episode demi episode di uploadnya setiap hari mengikuti update jam tayangnya di televisi tanah air.

Tiga hal tersebut diatas sudah kurasakan membawa nuansa Ramdhan khas Indonesia buatku. Meskipun demikian, aku juga menyisihkan waktuku untuk ikut merasakan suasana Ramadhan khas Spanyol yang sangat minimalis ini. Nuansa dengan berpuasa selama 16,5 jam ini kuyakini akan kurindukan saat aku tidak lagi berada di Spanyol ketika bulan puasa kembali datang. Terlepas dari semua itu, bagaimanapun nuansanya, semoga aku tetap dapat melakukan ibadah bulan Ramadhan dengan sebaik-baiknya, amiin.

Selang beberapa hari setelah aku menulis tulisan ini, aku diwawancarai oleh Radio FM Sham, Radio Muslim Surabaya. Masih erat kaitannya dengan tulisan ini tentang Ramadhan di Spanyol, maka kuputuskan untuk mengikutkannya sebagai lampiran dari tulisan ini.

Senang dapat berbagi kepada masyarakat Indonesia, khususnya para pendengar Radio Sham FM Surabaya sore itu (waktu Indonesia) tentang Islam di Spanyol. Tentunya segala apa yang aku sampaikan dalam wawancara tersebut, tentu sebatas opini-ku atau sesuatu yang saya pribadi ketahui, rasakan, dan lihat. Bisa jadi orang melihatnya berbeda, tetapi tentu itu sah-sah saja. Namanya juga opini, sangat emosional dan personal.

Diakhir sesi, aku diminta untuk memberikan pesan ramadhan. Aku pun bilang: Jika kita di Indonesia, kita mendapatkan nuansa Ramadhan khas Indonesia, jika kita di Spanyol, kita juga punya nuansa Ramadhan khas Spanyol, namun kita juga bisa punya nuansa Ramadhan khas Ramadhan. Aku tidak sempat menjelaskan lebih lanjut akan maksudku mengucapkan pesan tersebut. Maka disini saya coba menjabarkannya lebih, sesuai dengan apa yang sebenarnya ingin saya katakan. Maksudnya, dimanapun kita berada, kita sebenarnya bisa menciptakan suasana Ramadhan khas Ramdhan itu sendiri. Apa sih Nuansa Ramadhan khas Ramadhan? Itu adalah kebahagiaan menyambut Ramadhan, menjalankan Ramadhan dengan suka cita, dan mengamalkan amal sholeh lainnya. Artinya dimanapun kita berada, nuansa tersebut tadi bisa diciptakan. Tidak terbatas ketika berada di Indonesia, tidak terbatas ketika kita berada di Spanyol, ataupun ketika kita berada di mana saja. Memang, akhirnya itu kembali lagi kepada kita masing-masing. Karena nuansa itu lebih kepada nuansa pribadi. Selamat menciptakan nuansa Ramadhanmu!

https://soundcloud.com/idham-badruzaman/wawancara-radio-sham-fm
https://soundcloud.com/idham-badruzaman/wawancara-radio-sham-fm-1

30 de Julio de 2013

Idham Badruzaman – Castellon de la Plana, Comunidad Valenciana