Nothing is Impossible

Tidak ada yang mustahil, barangkali kalimat ini yang paling tepat untuk menceritakan sekelumit pengalamanku selama berjuang meraih mimpi untuk bisa sekolah diluar negeri. Aku tidak ingin mengatakan sekolah di luar negeri adalah mimpi yang terbaik, akan tetapi sengaja kuceritakan pengalaman ini agar dapat berbagi dengan para pejuang mimpi sekalian. Bagi sebagian, mendapatkan beasiswa untuk studi diluar negeri adalah sesuatu yang mudah untuk diraih dan tidak membutuhkan waktu yang lama, akan tetapi tidak untukku. Apalagi kalau dilihat dari sisi prestasi. Nilaiku selama perkuliahan tidak seberapa memuaskan, cuma rata-rata saja. Begitu juga dengan bahasa. Sudah berulangkali aku mengikuti berbagai macam kursus bahasa mulai dari Arab, Inggris, Perancis, Persia dan Spanyol. Tapi pada akhirnya hasilnya tidak begitu memuaskan. Aku merasa memang inilah takdir Tuhan kepadaku. Satu-satunya yang aku banggakan adalah semangat untuk menggapai mimpi, sekolah diluar negeri!

Sedikit melihat kembali kebelakang. Pengaruh yang besar dari lingkungan adalah sebab mengapa aku ingin sekali sekolah diluar negeri. Apalagi sudah banyak teman yang memiliki kesempatan tersebut. Rata-rata mereka sekolah di Inggris, Perancis, Australia, Belanda dan Jerman. Tentunya dengan meraih beasiswa bergengsi dari masing-masing negara tersebut. Terus terang aku bangga dengan prestasi yang mereka telah raih, sekaligus sedih mengapa aku belum memiliki kesempatan yang sama. Apakah memang betul ini takdir Tuhan untukku? Benar-benar penasaran dibuatnya.

Aku ingat betul, tidak kurang dari 15 folder yang ada di komputer. Isinya adalah berbagai macam beasiswa yang ditawarkan oleh berbagai negara, institusi internasional dan NGO. Sengaja aku pisahkan dengan rapi melalui folder agar lebih mudah diingat beasiswa apa saja yang pernah kudaftar. Sekaligus untuk mempermudah pendaftaran beasiswa-beasiswa selanjutnya. Biasanya tiap beasiswa memiliki kesamaan syarat jadi tinggal lihat dokumen-dokumen yang pernah dibuat sebelumnya, dilengkapi dan dikirimkan. Tapi, pada akhirnya, tidak ada satupun dari beasiswa tersebut berhasil didapatkan. Jangankan mengikuti seleksi, ditahap pemberkasan saja sudah gagal. Es muy teriste, it is very very sad!

Aku sudah mafhum dengan berbagai tahapan yang harus dilalui sebelum pengumuman akhir penerimaan beasiswa. Para pemberi beasiswa tentu ingin memilih calon penerima yang terbaik dengan kualifikasi yang memenuhi kriteria yang diajukan. Biasanya harus memiliki nilai di atas rata-rata ditambah kemampuan bahasa inggris tinggi dan ide penelitian yang canggih. Kalau melihat diri sendiri, aku maklum kalau belum berhasil, semua karena kemampuanku tidak memenuhi kualifikasi tersebut. Lagi-lagi perlu maklum!

Tapi keyakinanku yang mendalam bahwa semua itu perlu usaha dan Tuhan yang menentukan tidak menyurutkan langkahku untuk tetap mencoba, mencoba dan mencoba. Bukan Tuhan yang memberi rejeki tapi Tuhan menunggu kita untuk memberikan rejekinya. Paling tidak itulah yang sangat kuyakini ketika itu. Aku tidak boleh menyerah, Tuhan sudah menunjukkan begitu banyak kuasanya kepadaku. Ini terbukti ketika pertama kali datang ke Jogja aku harus dihadapkan ke pilihan yang sulit. Ketika itu, setelah lulus dari SMP 13 Palembang, aku dinyatakan diterima di salah satu sekolah unggulan di kota yang sama. Tapi aku memilih SMA Muhammadiyah 6 Yogyakarta, sekolah yang tidak memberikan banyak motivasi untuk belajar. Begitu pula ketika kuliah, aku akhirnya harus memilih studi di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), kampus swasta yang kalah tenar dengan Universitas Gadjah Mada. Aku sedih tapi maklum. Lagi-lagi karena melihat kemampuanku.

Tapi tunggu dulu, ada satu hal yang sangat berkesan untukku. Sekolah di Muhammadiyah 6 telah memberi kesempatan 2 tahun menjadi ketua IRM dan belajar banyak hal tentang memotivasi diri. Disini aku berkesempatan bertemu dengan banyak siswa dari sekolah lain dengan kemampuan yang luar biasa. Hal ini sekaligus menjadi motivasi untukku agar dapat berprestasi. Begitu pula di UMY, aku memiliki kesempatan untuk banyak menulis yang tidak dimiliki jika aku berada di kampus sekelas UGM. Disana mahasiswa sudah banyak yang pintar menulis. Seleksi karya tulis dari mulai jurusan, fakultas hingga universitas. Namun di UMY, siswa yang menulis sangat di hargai. Jangankan lolos seleksi, membuat proposal penelitian aja sudah diberi penghargaan. Artinya UMY benar-benar sangat mendukung mahasiswa untuk aktif dalam berbagai kegiatan ilmiah, termasuk penelitian.

Hal itu pula yang memotivasiku untuk terus-menerus menulis karya ilmiah sehingga sukses mengantarkanku ke PIMNAS yang diselenggarakan di Universitas Muhammadiyah Malang pada tahun 2005. Walaupun belum menang akan tetapi aku tetap bangga. Pertama, aku bisa memiliki kesempatan untuk menyaksikan anak-anak muda yang sebaya dengan diriku berkompetisi melalui inovasi kreatif. Kedua, aku bisa meringankan beban kehidupanku selama di Yogya karena bagi peserta PIMNAS disediakan uang saku yang jumlahnya cukup lumayan ketika itu. Uang ini yang kupakai untuk kehidupan sehari-hari selama di Yogya termasuk untuk membayar kost dan hutang-hutang di warung makan.

Dua pelajaran penting tersebut yang menjadi pemacu semangatku untuk terus-menerus mendaftar beasiswa tanpa kenal lelah walaupun kegagalan terus terjadi. Aku harus percaya diri, rejeki pasti datang walaupun belum tahu kapan. Ini yang selalu kuingat setiap waktu. Apalagi di tahun 2008 aku pernah terpilih sebagai salah satu peserta pertukaran pemimpin muda Indonesia – Inggris yang diselenggarakan oleh British Council bekerjasama dengan Muhammadiyah. Aku tidak pernah membayangkan memiliki kesempatan menginjakkan kaki di tanah kelahiran Pangeran Charles itu. Satu hal yang sangat kuingat, setiap usaha pasti berbuah dan terkadang hasilnya jauh lebih besar dari apa yang dibayangkan.

Terus terang, namanya semangat pasti ada pasang surut. Saking seringnya gagal mendapatkan beasiswa akhirnya aku memutuskan untuk mendaftar program pasca sarjana di UGM. Bagiku mungkin ALLAH SWT berkehendak justru sebaliknya, bukan menghendaki aku untuk belajar di luar negeri. Tidak selalu yang kita harapkan adalah yang terbaik untuk kita. Kalau memang jalan yang terbaik untukku adalah dengan studi di Indonesia mengapa aku harus memaksakan diri untuk sekolah di luar negeri. Aku masih ingat ketika itu, selama pendaftaran pasca UGM aku membaca sebuah peluang melamar beasiswa luar negeri yang di tawarkan oleh Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi, Kementrian Pendidikan Nasional. Sebenarnya aku sudah malas untuk mendaftar, apalagi syaratnya adalah seorang dosen. Tapi entah mengapa ketika itu semangatku untuk mencoba melamar beasiswa luar negeri kembali meningkat. Padahal aku sendiri sudah memutuskan untuk studi di dalam negeri.

Rejeki memang hanya milik Yang Maha Pemberi. Persis ketika pembukaan beasiswa luar negeri yang di tawarkan oleh Dikti diumumkan di saat yang sama UMY sedang membuka peluang penerimaan dosen baru. Tanpa pikir panjang aku langsung ambil kesempatan itu. Dalam benakku ketika itu, barangkali saja aku diterima sebagai dosen dan ini sekaligus memberikan peluangku untuk mendaftar beasiswa luar negeri Dikti. Setelah melalui proses yang panjang ternyata akhirnya aku dinyatakan diterima sebagai dosen UMY. Alhamdulillah, sujud syukur aku ketika itu. Meskipun telah diterima sebagai dosen UMY aku masih tetap ingat niatku waktu itu, melanjutkan kuliah di luar negeri.

Cerita mengenai pendaftaran beasiswa luar negeri ini juga cukup unik karena prosesnya yang cukup panjang (kalau tidak salah satu tahun) ditambah lagi persyaratan yang cukup banyak. Salah satunya adalah Letter of Acceptance (surat penerimaan) dari kampus di luar negeri yang dituju. Cerita mengenai mencari kampus ini juga cukup unik dan menarik karena aku harus menyiapkan proposal dan CV yang bagus agar dapat dipertimbangkan untuk diterima sebagai mahasiswa di kampus-kampus yang kutuju.  Aku bingung sekali waktu itu, ini baru pertama aku daftar beasiswa dan tidak banyak pengalaman yang aku punya mengenai bagaimana membuat proposal penelitian yang baik, apalagi CV. Apa boleh buat, sudah menjadi tekad sejak awal untuk studi di luar negeri jadi apapun yang ada di depan mata harus dihadapi.

Sedikit demi sedikit aku buka lagi bahan-bahan kuliah yang dimiliki selama studi di S1, barangkali ada beberapa ide yang bisa aku pakai sebagai bahan pembuatan proposal. Selama kuliah S2 di UGM juga ada beberapa topik-topik tesis yang telah aku susun sebagai bahan persiapan sebelum waktu penulisan tesis dimulai. Singkat cerita aku menemukan ide menarik untuk menulis proposal. Sedikit demi sedikit aku tuliskan apa yang menjadi tema utama tesis ku dan alasan mengapa aku ingin sekali menulis dengan topik tersebut. Jujur saja, kemampuan bahasa inggrisku tidak bagus, ini sempat membuat tidak percaya diri waktu itu, tapi aku yakin semua butuh proses. Proses ini yang paling mahal harganya. Kata demi kata dari ide tesis yang kumiliki kutuliskan dalam bahasa inggris dan pada kenyataannya selesai juga. Meskipun sudah selesai aku yakin masih banyak tata bahasa yang salah. Oleh karena itu aku berinisiatif untuk memberikannya kepada seorang teman yang memiliki kemampuan bahasa inggris yang baik agar bisa dikoreksi.

Aku beruntung sekaligus berterimakasih karena ada banyak teman yang bersedia membantu. Salah satunya Jeremy Gross. Jeremy adalah lulusan dari Cambridge University, UK dan aku telah mengenalnya sudah sejak lama. Perkenalan kami dimulai ketika aku terlibat dalam organisasi pemantauan Pemilu. Jeremy adalah salah satu penanggungjawab program ketika itu. Aku dan Jeremy berhubungan akrab bahkan hingga saat ini. Kami masih sering bercerita tentang aktifitas masing-masing. Aku berterimakasih sekali pada Jery yang dengan sabar selalu memberikan koreksi proposal penelitianku yang akan digunakan sebagai salah satu syarat memperoleh beasiswa luar negeri. Setiap waktu Jeremy memberikan arahan dan koreksi mengenai topik tesis yang kutulis. Sebenarnya bukan Jery tempatku meminta bantuan, ada banyak orang disekelilingku yang sering dan terus menerus kumintai pendapat. Kalau kutulis nama-nama mereka disini mungkin tidak cukup satu halaman. Aku yakin, mereka pasti bosan dengan wajahku ketika itu yang selalu bertanya dan terus bertanya. Tapi aku tidak perduli. Bagiku persahabatan, pertemanan atau apapun namanya hanya akan menjadi network jika tidak dimanfaatkan. Namun jika bisa dimanfaatkan akan menjadi networking. Artinya kedua belah pihak akan merasakan manfaat dari persahabatan, pertemanan atau apapunlah namanya itu. Seperti ketika aku meminta bantuan pada Jery. Disatu sisi aku mendapatkan pertolongan karena Jeremy telah mengkoreksi proposal tesisku. Mungkin bagi Jeremy itu juga bermanfaat untuk dapat mengingat kembali ilmu-ilmu yang dia dapatkan selama perkuliahan.

Setelah melalui proses panjang penulisan akhirnya proposal tesis selesai juga. Setelah itu aku coba melengkapi persyaratan lainnya seperti sertifikat TOEFL dan LoA. Kalau untuk TOEFL alhamdulillah sejak awal sudah ada, meskipun nilainya tidak begitu memuaskan. Yang cukup menantang adalah mendapatkan LoA dari unversitas yang dituju. Untuk ini aku persiapkan surat khusus yang isinya memperkenalkan diri dan menerangkan bahwa aku sekarang dalam proses pendaftaran beasiswa luar negeri yang diselenggarakan oleh kementrian pendidikan Indonesia. Agar dapat dipertimbangkan sebagai penerima beasiswa tersebut aku membutuhkan LoA dari kampus yang kutuju dan aku menanyakan kesempatan untuk memperoleh LoA tersebut. Tidak lupa pula kulampirkan proposal tesis dan CV yang sudah kupersiapkan sebelumnya dengan harapan menjadi bahan pertimbangan. Cukup menarik, waktu itu satu bulan penuh aku coba mencari universitas-universitas diluar negeri dengan berbagai macam tawaran program. Satu-satu aku coba catat emailnya kemudian aku kirimi surat dan lampiran (proposal penelitian dan CV) yang sudah kupersiapkan sebelumnya. Aku masing ingat, paling tidak lebih dari dua puluh kampus yang kukirimi email. Lagi-lagi aku tetap jaga rasa percaya diri. Bagiku, semakin banyak aku mengirim surat maka semakin banyak peluang yang aku dapatkan. Lagian internet juga murah satu jam, investasi dimana-mana memang harus dibutuhkan. Pikiran ini cukup menenangkan hati waktu itu.

Ditunggu sampai sebulan hanya ada satu universitas yang menjawab. Kalau tidak salah salah satu universitas di Oslo. Isinya sudah bisa ditebak, mereka menyampaikan bahwa aku tidak memiliki kualifikasi untuk studi di programnya. Sambil jalan aku terus menerus mendaftar berbagai beasiswa lain. Dipikiran ini cuma ada mencoba, mencoba dan mencoba. Satu waktu aku mendapatkan berita gembira bahwa aplikasi beasiswaku ke University for Peace, Austria lolos seleksi dan aku dipersilahkan untuk mengikuti program master yang mereka tawarkan untuk tahun ajaran 2010-2011. Program masternya ternyata cuma satu tahun. Berkali-kali aku perhatikan pengumuman beasiswa itu, maklum aku masih baru dengan pengalaman melamar beasiswa. Aku juga coba tanya dengan beberapa teman dengan menunjukkan surat bukti penerimaan beasiswa tersebut. Selidik punya selidik ternyata beasiswa yang dijanjikan tidak full akan tetapi parsial. Artinya pihak universitas hanya memberikan setengah dari anggaran belajarku selama kuliah. Setelah aku kalkulasi jumlah total biaya kuliah yang akan aku keluarkan kurang lebih Rp. 200 juta. Artinya pihak universitas memberikan subsidi Rp 100 juta sebagai beasiswa dan sisanya aku harus tanggung sendiri. Terus terang uang itu mungkin tidak banyak bagi sebagian orang, apalagi ini dianggap investasi untuk masa depan. Apalagi setelah pulang kuliah aku akan mendapatkan pekerjaan dengan penghasilan yang dapat mengembalikan dana tersebut. Hal ini yang disampaikan beberapa orang ketika aku berkonsultasi apakah layak diambil beasiswa tersebut.

Tidak lama kemudian, aku juga mendapatkan informasi lain. Aplikasi beasiswaku ke University of Calabria, Italy juga diterima dan aku dinyatakan mendapatkan beasiswa untuk tahun ajaran 2011-2013. Aku bahkan lupa dengan beasiswa ini. Seingatku waktu itu cuma mengisi form online dan mengupload beberapa dokumen yang mereka minta. Tidak disangka selama beberapa bulan kemudian, pengumuman menyatakan bahwa aku berhak mendapatkan beasiswa yang mereka sediakan. Cuma setelah beberapa kali aku baca pengumuman tersebut ternyata beasiswa yang mereka berikan juga tidak penuh. Beasiswa yang mereka berikan hanya dalam bentuk gratis biaya kuliah dan akomodasi. Sementara untuk tiket pesawat, asuransi, makan dan minum semuanya harus ditanggung sendiri. Kalau aku hitung-hitung selama dua tahun kuliah aku harus menyiapkan dana sebesar Rp 75 juta.

Rasanya benar-benar bingung ketika itu. Berita ini juga sempat aku sampaikan kepada orang tua di Palembang. Ayahku mengatakan, “Arie kalau memang kamu berniat sekolah di luar negeri, Papa siap untuk membiayaimu. Uang Rp 100 juta bisa Papa pinjam ke Bank. Asal kamu bisa melanjutkan studi di luar negeri sesuai dengan cita-citamu”. Tidak terbayang dibenakku bahwa lagi-lagi harus merepotkan orang tua untuk bisa studi diluar negeri dengan meminjam uang di Bank. Jujur, aku tidak begitu suka berurusan dengan Bank soal pinjam meminjam karena pasti biaya pengembaliannya sangat besar. Sempat terlintas dibenakku untuk mengiyakan tawaran itu tapi lagi-lagi aku membutuhkan keyakinan yang bulat.

Aku ingat pada saat pelaksanaan Muktamar Muhammadiyah satu abad di UMY pada bulan Juli 2010 salah satu yang hadir ketika itu adalah utusan dari PCIM Perancis dan yang hadir pada waktu itu adalah Mas Andar Nubowo. Sedikit informasi mengenai beliau. Kami sama-sama terlibat aktif dalam kegiatan keorganisasian di Muhammadiyah dan sama-sama kerja di LP3M UMY. Ini memberikan ruang bagiku untuk selalu bertemu dan berbagi motivasi dengannya. Mas Andar beruntung karena berhasil mendapatkan beasiswa untuk studi di Perancis. Pencapaiannya merupakan tambahan semangat untukku. Meskipun beliau sudah berada di Perancis kami tetap menjaga komunikasi. Terkadang dengan berbicara dengannya motivasiku untuk mendapatkan beasiswa semakin bertambah. Singkat cerita disela-sela pelaksanaan Muktamar aku menemui mas Andar dan menceritakan mengenai beasiswa yang aku dapatkan dari Austria. Jujur, aku berterimakasih dengan Mas Andar. Beliau memberikan nasihat yang sangat membuatku terharu dan sampai sekarang masih teringat. Begini katanya: “Arie, aku akan sangat bangga padamu jika kuliah diluar negeri tanpa mengeluarkan biaya sepeserpun. Kalau kamu harus bayar mending kamu sekolah di dalam negeri saja”. Kalimat ini sampai sekarang masih teringat dibenakku. Setelah pulang dari bertemu Mas Andar aku coba menghayati yang dia sampaikan. Kupikir memang sangat tepat yang beliau sampaikan. Sampai sekarang kalimat itu tidak bisa kulupakan, kalimat yang membuat aku membatalkan niat untuk studi diluar negeri dengan mengeluarkan biaya yang cukup besar.

Keesokan harinya, aku coba buka kembali akun emailku. Barangkali ada pesan yang baru masuk. Ternyata tidak. Dari deretan email yang pernah masuk dan telah aku baca sebelumnya aku ingat Mbak Mita, salah satu rekan kerjaku di LP3M pernah memberi informasi tentang program master di bidang perdamaian dan konflik dari Universitat Jaume I (UJI) di Spanyol. Kampus ini adalah salah satu pilihan terbaik dalam konsentrasi perdamaian dan konflik. Aku pernah mendaftar beasiswa dari universitas tersebut, akan tetapi waktu itu jadwal pendaftaran beasiswa telah ditutup. Tapi aku berfikir, kenapa tidak aku kirimkan juga email ke UJI, barangkali mereka mau menerima aplikasiku. Pada akhirnya aku memutuskan untuk mengirim email ke UJI pada hari yang sama.

Tak dinyana, setelah menunggu lebih kurang dari satu minggu, UJI mengirimkan email balasan. Aku pikir isinya sama saja, tidak memenuhi kualifikasi program. Ternyata setelah kubaca, UJI memberikan kesempatan aku untuk studi setelah mencermati pengalaman kerja yang kumiliki melalui CV, dan UJI tidak berkeberatan untuk menyediakaan LoA sebagai syarat untuk mengajukan beasiswa Dikti. Aku sangat senang sekali waktu itu. Artinya, satu-satunya persyaratan pengajuan beasiswa yang belum aku miliki akan segera kudapatkan. Beberapa hari kemudian UJI mengirimkan LoA melalui email dan pos. Wah, rasanya benar-benar lega.

Setelah semua persyaratan terkumpul aku mendaftar ke Dikti. Alhamdulillah setelah proses panjang menanti dan menanti, serta mengikuti proses seleksi yang cukup panjang, termasuk juga wawancara, akhirnya aku dinyatakan sebagai penerima beasiswa Dikti untuk tahun 2011-2013. Alhamdulillah, sujud syukur pada Yang Maha Pemberi Rezeki pada akhirnya aku dapat merasakan bagaimana sekolah diluar negeri itu. Tidak pernah terbayang memang mimpi itu menjadi kenyataan. Dalam hati kecilku, benar kata orang-orang yang lebih dulu meraih sukses. Semua itu berawal dari mimpi dan diikuti usaha, terakhir pasrah. Things happen for reasons, segala sesuatu terjadi karena ada alasan. Tidak ada kata gagal, semua memiliki pesan dan makna tersembunyi. Oleh karena itu perlu dicari ada pesan apa dibalik apa yang telah diperoleh.

Dalam kesempatan ini aku ingin mengucapkan ribuan terimakasih pada orang-orang disekelilingku yang sudah memberikan banyak motivasi dan dukungan. Terutama segenap civitas akademika UMY yang telah banyak memberikan dukungan sehingga aku dapat mendaftar beasiswa Dikti. Paling tidak dengan pencapaian ini aku dapat membuktikan beasiswa itu bukan hanya untuk orang-orang pintar saja. Beasiswa juga bisa didapatkan bagi mereka yang sungguh-sungguh dan mau berusaha untuk mendapatkannya. Kalaupun ada keberuntungan itu bukan semata-mata hadir dengan sendirinya, akan tetapi perlu usaha yang dilakukan secara terus menerus. Paling tidak ini yang selalu kuingat agar dapat terus maju.

Mas-Arie-Madrid

Now, here I am.

NB: Sebenarnya, ada banyak suka dan duka pada saat pendaftaran beasiswa Dikti. Sengaja tidak disampaikan pada kesempatan ini karena pasti akan terasa seperti novel. Padahal tujuan utama dari menulis sekelumit cerita ini adalah memotivasi para pembaca.

Oleh: Arie Kusuma Paksi – Castellón, Spain