“Erasmus Mundus Master – Kesempatan dan Tantangan”

Beberapa waktu lalu, ketika di tengah-tengah semester pertama di Portugal, aku dan dua kawanku, satunya berasal dari Filipina dan satunya lagi berasal dari Palestina. Kami sama-sama merasakan hal yang sama, yaitu merasa bosan harus duduk di depan meja menghadapi beberapa tugas kuliah. Jadilah kami bertiga memutuskan untuk membuang waktu dengan berjalan ke pusat kota (city centre).

mas-bejo

 

Walaupun pusat kota berada di atas bukit, bayangkan saja seperti misalnya saat itu aku berada di Unika Soegiyopranoto Semarang dan harus ke pusat kota yang adanya di Tembalang Bukit Cinta. Dengan jalan menanjak, udara dingin mencapai 4-6 derajat, walaupun ada matahari namun dinginnya udara sanggup menusuk sampai tulang. Dengan semangat membuang waktu, akhirnya aku dan kedua temanku itu berjalan kaki menaiki bukit itu demi menghilangkan rasa bosan.

Teman filipina langsung bilang, pokoknya aku sampai pusat kota akan makan pizza, yang gedhe. Sedangkan temanku dari palestina hanya bilang, aku mau minum kopi doang. Kebiasaan dia memang minum kopi, walaupun dia sering mengeluh nyeri di perutnya, namun kalau diingatkan, “mungkin itu karena kamu selalu minum kopi”, dia tidak akan percaya.

Sambil menunggu pizza yang sedang dibuat, kami ngobrol ngalor-ngidul. Iseng saja saya tanya. Diprogram master ini apa yang kamu dapatkan? Dan sejenak sunyi…tanpa kata-kata karena semua mikir, namun setengah menit kemudian….

“Aku punya kesempatan jalan-jalan keliling eropa, bertemu dengan banyak orang dan belajar berbagai budaya” temenku yang Filipino unjuk bicara,

“emm…kalo aku, hampir sama sich, kalo ilmu keperawatan mungkin sama saja, hanya kesempatan bertemu dengan orang yang memiliki latar belakang budaya yang berbeda, kebiasaan yang berbeda, menjadikan pembelajaran master ini menjadi lebih terasa berarti” temenku yang Palestina menyambung.

“Nah, kalo aku nich…selain yang kalian sebutkan tadi, kemampuan memasakku jadi bertambah. Karena aku harus survive dengan makanan buatanku sendiri..maklum, makanan disini tidak ada rasanya…..” dan semua nyengir…ketawa…karena setuju dengan pernyataanku.

Yap, benar sekali. Menjadi mahasiswa master Erasmus mundus bukan hanya diberikan kesempatan untuk berstres-stres ria dengan tumpukan tugas dan paper yang harus dibaca. Namun menjadi master Erasmus mundus memiliki target juga untuk belajar kebudayaan sekitar, berinteraksi dengan masyarakat social sehingga akulturasi budaya terasa mengena dan bahkan nantinya ketika pulang dengan gelar Master of Science (MSc) tidak hanya tahu ilmu yang dipelajari, namun pengalaman hidup sepanjang waktu di Eropa ini tak kalah pentingnya.

Mengutip pernyataan Koordinator program sesaat sebelum liburan semana santa kemarin. Ceritanya aku ingin menggunakan waktu liburan semana santa untuk tetap magang di RS karena aku ingin menyelesaikan waktu magang lebih awal. Alih-alih diijinkan, malah beliau bilang “Kalian disini bukan hanya belajar ilmu keperawatan saja, kalian juga berhak untuk berlibur, dengan berlibur kalian akan banyak belajar mengenal lingkungan sekitar, bertemu orang dan berinteraksi dengan kebudayaan yang ada”

Senang juga memiliki koordinator program seperti beliau, karena tahu kebutuhan mahasiswa dan yang penting adalah mengijinkanku untuk menyelesaikan program magang lebih awal dan pulang ke Indonesia untuk liburan summer…..J

Benar saja, akhirnya aku putuskan untuk mengikuti program jalan-jalannya Erasmus Student Association yang mengadakan acara trip ke Andalusia. Alih-alih belajar mengenai sejarah Kejayaan islam di masa itu, malah diajak “fiesta/pesta” tiap malam. Mungkin ini yang dimaksud belajar budaya sekitar oleh koordinatorku, dalam hati.

Lha bayangkan saja, waktu yang digunakan untuk keliling Andalusia tiap kota paling banter 2-3 jam saja, selebihnya sudah keburu malam, mereka siap2 ke pesta dan esoknya bangun siang. Walah…walah..walah…akhirnya aku putuskan untuk menyusuri kota-kota di Andalusia sendiri, menjelajah kejayaan islam waktu itu. Biarkan mereka pesta, aku belajar budaya yang lain saja. J

Itulah program yang aku jalani saat ini. Dari namanya saja Erasmus Mundus. Sebuah programmobility university yang menuntut mahasiswa untuk berpindah-pindah ke minimal 2 negara. Siapa sich yang tidak kenal program ini? Pasti semua sudah mengetahuinya dan memahami seluk beluknya. Namun perlu dicatat bahwa menjalaninya ternyata lebih menyenangkan dan bahkan akan menemukan lebih dari pada apa yang orang lain ceritakan.

Itulah esensi kenapa aku harus belajar ke Luar Negeri. Mungkin orang beranggapan kenapa susah-susah ke negara orang yang penuh dengan budaya negative dan sebagainya dan sebagainya. Akupun setuju dan sepaham dengan mereka bahwa didalam negeri pendidikannya tidak kalah bagusnya, banyak universitas2 di Indonesia yang sejajar dengan universitas di LN.

Namun, lebih daripada itu. Yang aku cari di program ini adalah pada tantangannya. Di program Erasmus Mundus yang aku jalani memang tidak menuntut untuk menguasai bahasa lokal, jadi ketika aku harus sampai di Portugal ataupun Spanyol, tidak ada satupun kosa kata atau bahkan satu kata yang aku pahami. Namun itulah tantangannya. Bagaimana berinteraksi dengan birokrasi, belajar bahasa local yang bikin ngantuk dan susah menghapal (karena pas belajar pikirane kemana-mana merencanakan agenda perjalanan).

Orang yang sering tertempa tantangan dan menjadi survive maka mentalnya akan terbentuk dengan sendirinya, sehingga dia memiliki kekebalan terhadap tantangan-tantangan berikutnya. Itulah nilai lebih dari belajar dan menimba ilmu di LN.

Itulah kenapa aku menyebutnya kesempatan dan tantangan. Kesempatan untuk mengenyam pendidikan di LN, jalan-jalan, belajar bersosialisasi dan berinteraksi dengan budaya sekitar, yang menjadikan khasanah pengalaman hidupnya lebih beragam. Namun dibalik hal tersebut memiliki tantangan-tantangan yang tentunya setiap orang akan berbeda hanya tinggal bagaimana kita menyikapi dan membentuk mentalitas dalam diri kita sendiri.

Oviedo, 7 de Abril de 2013

Bejo Utomo

Master of Erasmus Mundus Program in Emergency and Critical Care Nursing