Las Fallas di Valencia

SATU TRADISI DI VALENCIA
Sayang untuk dilewatkan begitu saja, perayaan besar bernama “Las Fallas” yang dilakukan di kota terbesar ketiga setelah Madrid dan Barcelona di Spanyol ini akan berakhir hari ini. Perayaan yang berlangsung hanya 4 hari saja setiap tahunnya ini menyedot pendatang domestik dan mancanegara. Pikirku sayang untuk dilewatkan mengingat jarak antara tempatku tinggal, Castellon de la Plana dengan Valencia hanya 45 menit saja menggunakan kereta dengan tiket EUR 5,30. Akhirnya hari itu, kuputuskan untuk pergi menilik perayaan budaya “Las Fallas”.

Memang tidak seru jika menikmati perayaan ini sendirian, dan beruntung hari ini aku dapat menyambangi Valencia bersama ketiga teman kampusku: Marcela, Celia, dan Martin. Tidak hanya kita bisa saling mengobrol berempat selama perjalanan, akan tetapi suasana menjadi lebih ceria dengan bepergian berkelompok. Mood tersulut begitu saja untuk berfoto-foto dan sekedar melempar candaan hangat satu sama lain.

Seperti biasa, akupun mencoba mencari tahu sejarah dimulainya tradisi Las Fallas ini kepada warga setempat. Tidak jauh dari patung sang perawan-nama lain dari Bunda Maria dalam umat kristiani atau Siti Maryam dalam Islam, kutemukan seorang warga asli Valencia yang memakai baju adat khas Valencia. Dibawah patung sang perawan yang terbuat dari tumpukan bunga mawar, kami mendengar penjelasan warga lokal tersebut dengan sangat antusias.

Diceritakan bahwa dulu, terdapat seorang tukang kayu yang sangat terkenal dengan karya-karyanya. Tukang kayu tersebut mempunyai kebiasaan membakar salah satu karyanya di jalanan sekali dalam satu tahun. Melihat peristiwa itu, setidaknya ada dua penafsiran orang: yang pertama bahwa membakar salah satu karyanya adalah simbol pembakaran keburukan, agar esok hari Ia mendapatkan kebaikan; dan penafsiran yang kedua adalah bahwa peristiwa pembakaran salah satu karyanya tersebut menandakan bahwa musim dingin telah selesai, dan esok hari dimulainya musim semi.

Sumber lain mengatakan bahwa para tukang kayu tersebut membakar sisa kayu yang tidak terpakai dan serutan kayu dengan lampu minyak. Hal ini dilakukan karena mereka tidak lagi membutuhkan lampu tersebut karena siang hari menjadi lebih panjang daripada biasanya dimusim dingin. Oleh karenanya, mereka bergembira dan sedikit ber-euforia.

Seiring berjalannya waktu, Valencia tidak lagi membakar sisa potongan kayu dan serutan kayu, melainkan patung-patung yang dibuat sebagai bentuk kritik sosial terhadap nasional maupun internasional yang menelan biaya ratusan euro. Patung-patung ini dibangun dibeberapa titik di pusat kota Valencia sekaligus dilombakan.

Ketika mendengar bahwa patung-patung raksasa ini akan dibakar, aku teringat pada satu tradisi membakar patung yang juga terjadi di Indonesia, hari nyepi. Perayaan hari nyepi bagi umat beragama Hindu dimulai dengan pembakaran patung raksasa yang menyeramkan, disebut ogoh-ogoh  pada malam hari sebelum pelaksanaan ritual nyepi. Tentu keduanya tidak sama dalam hal nilai sejarahnya, akan tetapi kebetulan mempunyai kesamaan dengan sama-sama membakar patung yang berukuran raksasa tersebut.

Setelah selesai berkeliling mengitari kota Valencia dengan beragam patung raksasa dan kritiknya, kami pun kembali ke Castellon dengan membawa kesan tersendiri tentang Las Fallas sebagai salah satu budaya Valencia yang terus dilestarikan oleh warganya. Kereta sore itu membawa kami pulang dengan kondisi kami yang sangat lelah. Kami pun terkantuk-kantuk selama perjalanan pulang kami ke Castellon.

Ada kabar gembira yang kami bawa dari perjalanan tersebut. Kami senang bahwa, meskipun tidak pasti, hari ini adalah hari terakhir musim dingin, dan besok adalah musim semi. Artinya bahwa matahari berangsur-angsur akan lebih gagah dari biasanya. Matahari akan bersinar lebih lama menerangi Comunidad de Valenciana dan sekitarnya. Bienvienido Primavera, Selamat datang musim semi!

las-fallas-199x300

Castellon de la Plana, 21 de Marzo de 2013

Adam B