Magdalena Part 2

Waktu saat itu sudah menunjukkan pukul 22.30 GMT +1. Disaat aku sedang asyik menikmati salah satu film serial favoritku, “modern family”, Tiba-tiba HPku berdering, dan kulihat nama Kevin di layar selulerku. “Hey Idham, come on down. It’s the last night of Magdalena!” . Aku tidak bisa menolak, terlebih karena Ia rela menghabiskan pulsa untuk menelponku. Memang sangat khas budaya Jawa. Aku kadang mengutuk sikapku yang tidak berdaya menolak ajakan teman meski aku sendiri tidak berkenan. Tapi ternyata, kemudian aku sangat menikmati acara penutupan Magdalena itu. Aku bahkan akan menyesalinya jika sampai tidak hadir pada acara tersebut. Acara yang luar biasa.

Arak-arakan sangat panjang melengkapi penutupan perayaan Magdalena malam itu. Terdapatlah drumband asal kerajaan Hungaria yang secara khusus diundang oleh Walikota Castellon karena adanya hubungan sejarah antara Castellon dengan Kerajaan (atau Negara saat ini) Hungaria. Pangeran Jaime I yang namanya diabadikan menjadi nama jalan utama di Castellon dan nama universitas negeri satu-satunya di Castellon ini diceritakan sempat memadu kasih dengan putri asal Hungaria bernama “Violant of the Hungary”. Kisah kasih Pangeran dan Puteri ini akhirnya diresmikan menjadi pernikahan kedua Pangeran Jaime I setelah istrinya yang pertama, Eleanor of Castle asal kerajaan Inggris.

Dalam acara tersebut tampil “Queen of the fiesta of Magdalena” yang dalam kesempatan ini dilakoni oleh putri Walikota Castellon sendiri. Meskipun peran putri perayaan Magdalena ini berganti-ganti setiap tahunnya, akan tetapi memang selalu diambil dari kaum bangsawan di Castellon. Putri Magdalena berjalan dengan dibarengi oleh rombongan dayang-dayang yang juga menggunakan baju tradisional. Dikawal ketat oleh personel kepolisian setempat, Magdalena beserta rombongan berjalan menuju kastil di Plaza mayor yang terletak persis di depan Gereja Katedral Castellon.

Putri Magdalena kembali muncul di depan khalayak dari balkon kastil. Membawa obor kecil, putri Magdalena kemudian menyalakan petasan yang terhubung mengitari kota Castellon sebagai tanda acara penutupan perayaan Magdalena dimulai. Beberapa orang berlarian mengikuti arah ledakan petasan yang terus berbunyi mengelilingi kota agar mereka mendapat keberuntungan dari perayaan Magdalena ini, menurut mitos tentunya.

Selama petasan itu berjalan mengelilingi kota, putri Magdalena menari-nari diatas balkon diikuti dayang-dayangnya diiringi dengan musik khas Magdalena, “Magdalena Fiesta Plena.. “.

Petasan itu telah kembali. Berujung pada menara gereja Katedral Castellon. Kini saatnya Sang puteri melakukan tugas terakhirnya, yaitu mengucapkan satu kata dan dijawab oleh khalayak yang hadir pada perayaan akbar itu.

Sang Puteri : MAGDALENAA!

Khalayak : VITOL (serentak dan bersemangat, semua menjawabnya)

Tidak banyak yang tahu arti kata Vitol ini karena merupakan bahasa Catalan yang sudah tidak digunakan lagi. Menurut Nacho, seorang teman asli Castellon, kurang lebih vitol ini artinya adalah: Long Live! Semua masyarakat Castellon selalu berharap agar Magdalena tetap hidup. Sangat masuk akal karena Magdalena sendiri seperti dalam tulisanku sebelumnya adalah hari dimana warga Castellon mulai menetap di Castellon yang turun dari bukit Magdalena. Jadi mereka mengharapkan kesejahteraan warga Castellon untuk selamanya.

Kembang api ala tahun baru kembali memeriahkan penutupan perayaan Magdalena malam itu. Tepat diatasku dan ribuan orang yang berkumpul di Plaza Mayor, kembang api itu ditembakkan ke atas beberapa kali. Saking terangnya karena banyaknya kembang api yang ditembakkan, suasana malam itu berubah seperti siang yang berwarna warni. Kurang lebih 20 menit kami tepat berada dibawah kembang api yang menyala berwarna-warni menghiasi langit Castellon.

Magdalena telah usai. Para dayang-dayang itu menangis. Dayang-dayang yang terdiri dari anak kecil dan remaja putri, semuanya menangis sesenggukan mengeluarkan airmata yang begitu deras. Aku terpatung melihat pemandangan ini. Sangat emosional kurasakan. Warga Castellon yang diwakili oleh dayang-dayang dan puteri Magdalena menangis meninggalkan perayaan Magdalena yang telah usai. Penutupan yang sangat syahdu dan dramatis ini berhasil melengkapi malamku dengan takjub dan terkesan. Sungguh pengalaman yang teramat luar biasa.

Untuk Castellon, Magdalena, Vitol!

Oleh: Idham Badruzaman